Macan yang Tertidur
Udara malam ini begitu sejuk. Ya, karena malam ini aku tidak duduk
di depan meja belajar lagi seperti biasanya. Sebenarnya, setiap malam memang
sejuk, tapi karena aku harus berhadapan dengan PR-PR yang sering kali membuatku
gerah, malam yang tadinya sejuk seketika menjadi sangat gerah. Sangat
membosankan.
Malam minggu, malam yang sangat istimewa bagi kami, para pelajar.
Saat ini aku dapat menghela nafas dengan lega. Tentu saja karena malam ini aku
bebas dari PR.
Kulihat jam dinding doraemonku, hhhhh baru jam 19:40… kok terasa
lama ya? Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi. Suara yang mengangguku
beberapa hari terakhir ini. Sepertinya suara itu berasal dari rumah kosong tepat
di belakang rumahku. Suara tangisan seorang gadis yang selalu berhasil
membuatku merinding. Hhhh!! Suara itu mengacaukan pikiranku.
Tidak! Aku tidak boleh takut. Aku tidak ingin malam mingguku kali
ini kacau hanya gara-gara suara itu. Aku tetap tak ingin beranjak dari kasur
dan melanjutkan membaca novel sambil mendengarkan beberapa lagu barat favoritku
dari laptop yang kuletakkan di atas meja belajar, agar tak terlalu
memperhatikan suara tangisan itu. Tapi aku tetap tak bisa mengalihkan
perhatianku dari suara itu. Aku berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan itu
suara…
Triiiiing!! Karena
terkejut, dengan spontan kututupi wajahku dengan novel tadi. Ah!! Ternyata itu
bunyi handphone hitamku yang sedang di-charge dan tergeletak di atas
meja belajar. Aku melangkah menuju meja
belajar dengan malas dan melihat ada BBM masuk dari sahabatku, Tania
|
Sat 7:57 PM
may, lo udah jadi kan PR mtk?
SSat 7:59PM
Udah
Tan
Sat 8:04 PM
No 3
hal 47 gimana ya caranya?
Kasitau
donk may!
Gw
bingung nih…
Sat 8:07 PM
ah!
Besok aj deh, gue
lagi
mls nih mikirin
tu
PR-PR gajelas
Sat 8:08 PM
giliran lo nanya PR
biologi pasti gw kasitau lngsng!
Lo emng bener2 gabisa diganggu ya
kalo mlm minggu kayak begini
dasar maya!!
Sat 8:11 PM
hehehe,
besok deh! Janji!!
Sat 8:12 PM
Oke deh! janji lo may!!
Sat 8:15 PM
iyaiya…
mbak nia yang cantik!!
Tapi
gue lagi takut nih!
Belakangan
ini gue selalu dngr
suara
cewe nangis,
dah
gitu jelas bgt lagi suaranya.
Bikin
merinding, kayaknya sih tu
suara
dtngnya dari rmh kosong
di
blkng rmh gue…
rumahnya
Aisyah yang dulu Tan!
Sat
8:17 PM
hayoooo!! Ati ati aja lo may
Itu suara hantu kaliii, jangan2
hantunya lagi ada di belakang lo!
Tu rumah kan kagak ada yang
nempatin…
|
Aku merinding membaca pesan Tania yang terakhir. Aku menoleh ke
belakang. Hhhhhhh, syukurlah tak ada apa-apa. Kok aku jadi takut ya? Aku memang
tidak ingin merusak malam mingguku kali ini. Tapi apa daya, aku langsung melempar
ponselku ke meja belajar dan segera berlari ke teras depan.
Ibu yang sedang meminum kopi di teras depan, kaget melihatku
berlari seperti itu.
“Astaga Maya! Kamu ini seperti anak kecil saja main lari-larian!”
kata ibu kesal. Aku tersenyum mendengar perkataan ibu.
“Maya tidak sedang main lari-larian, bu. Lagian Maya kan udah
besar.” Jawabku.
Ibu tertawa “Terus kamu
kenapa? Kok tiba-tiba lari seperti anak kecil?” Aku yang tadinya tersenyum,
jadi takut lagi.
“Pernah nggak ibu denger suara orang nangis?” kataku sambil menuju
kursi di sebelah ibu. Ibu hanya menggeleng pelan.
“Bu, akhir-akhir ini Maya sering denger suara orang nangis.
Kedengarannya sih kayak suara cewek gitu. Itu suara siapa ya? Kayaknya suara
itu datang dari rumah di belakang deh.” Ucapku, masih dengan rasa takut dan
penasaran.
Tetapi, ibu tidak menoleh sedikit pun padaku. Dia malah santai
menyesap kopi hitam di genggamannya itu. Hhhhhhhh!!! Menjengkelkan! Sepertinya
ibu tidak menanggapi ketakutanku. Tiba-tiba angin bertiup, menyibak halus poni
pendekku, udara menjadi semakin dingin dan membuat rasa takutku bertambah.
“Jangan-jangan itu suara hantu ya? Apalagi rumah itu kan gak ada
yang nempatin sejak Aisyah dan keluarganya pindah ke Kalimantan. Pokoknya malam
ini aku mau tidur di kamar ibu!” kataku dengan nada takut, sepertinya aku
terpengaruh dengan perkataan Tania.
Aisyah adalah tetanggaku yang menempati rumah tepat di belakang
rumahku. Aku cukup dekat dengannya, ditambah lagi kami satu sekolah. Tapi lima
bulan yang lalu, tepatnya bulan Maret, Aisyah
dan keluarganya pindah ke Kalimantan, karena ayahnya, Om Wawan
ditugaskan untuk bekerja di sana.
Ibu yang memahami rasa penasaranku membiarkanku berbicara sesuka
hati. Ibu mengerti, anak perempuannya ini sangat cerewet dan mudah penasaran.
Berbeda dengan dua anak laki-lakinya, bang Adit dan bang Naufal. Ya,
kakak-kakakku itu tidak cerewet, tetapi tidak juga pendiam. Mmmm, mungkin lebih
tepat bila dikatakan kalem. Sepertinya aku tahu dari mana mereka mendapatkan
sifat itu. Dari ibu rupanya.
Ibu yang diam dari tadi, mulai berkomentar “Tadi kan kamu sendiri
yang bilang kalau kamu bukan anak kecil lagi. Memangnya hantu mana yang berani
sama anak cerewet sepertimu, hahhhh??!” kata ibu dengan nada sedikit mengejek
sambil menarik hidungku yang pesek ini.
“Memangnya ibu mau Maya digangguin hantu? Ibu mau nasib Maya sama
kayak Quinn di Film INSIDIOUS-3?” omelku sambil mengusap hidungku yang memerah.
Ibu tersenyum lagi, “Itu bukan suara hantu. Mungkin itu suara tetangga baru
kita. Tapi, ibu tidak pernah dengar suara itu.” Kata ibu dengan raut wajah yang
kini berubah menjadi serius.
“Yaiyalah, kamar ibu kan ada di depan, sedangkan kamar Maya di
belakang. Ibu ini gimana sih. Sebentar dulu, memangnya kita punya tetangga baru
ya? Kok Maya baru tahu? Mereka dari mana sih? Terus, kenapa ada suara tangisan
itu ya?”
“Tetangga baru kita itu
sudah satu minggu pindah ke sini.” Kata ibu datar.
“Oooh,” kataku sambil mengangguk-angguk sok mengerti. Aku menjadi
sedikit tenang mendengarnya, karena suara itu bukanlah suara hantu. Setidaknya,
rasa penasaranku terobati. Walaupun sedikit. Ah! Kenapa aku baru tahu sekarang,
ya? Hhhh!!! Ini gara-gara tugas-tugas menyebalkan itu. Gara-gara sibuk dengan
tugas, aku jadi ketinggalan zaman, kudate!
Tapi, mengapa ada suara tangisan menyedihkan seperti itu? Hal ini
membuatku tambah penasaran saja…
Setelah mengobrol panjang lebar dengan ibu, aku masuk ke dalam
kamar dan mengambil ponselku.
|
nempatin…
Sat 8:42 PM
ternyata
itu bkn suara hantu,kata
ibu
itu mngkn suara tetangga baru.
Mereka
baru pndh seminggu lalu
Sat 8:44 PM
jiaaaah,
bkn hantu ya??
Ah
gaseru ah! lagian lo sihh!
Kudate
bgt, masa gtau
ada
tetangga baru
Sat 8: 47 PM
yaiyalah
kudate, gue kan
sibuk
sama PR-PR gaje itu
Sat 8:48 PM
eh
tapi knp tetangga baru lo
itu
nangis hampir tiap mlm?
Sat 8: 51 PM
Iya
juga yaaa
mana
gue tau!
Emang
gue pikirin
Sat 9:03 PM
terserah
deh!! Gw ngantuk
nih.Off.
Bye!!
Sat 9:04
Yaelaah,
malah pegi!!
Cpt
bgt ngantuk!
Baru
Jg jam Sembilan
|
Aku mencoba menahan rasa penasaranku, tapi tetap saja tidak bisa. Rasa
penasaran itu sangat menggangguku. dua hari kemudian yaitu hari senin, sekitar
jam 5 sore, aku mencoba mendatangi rumah tetangga baru kita itu. Beberapa kali
aku mencoba bolak-balik, tapi tetap saja seperti tidak ada orang. Sepi. Seperti
rumah kosong!
Tak lama kemudian, aku mendengar tangisan itu lagi. Aku juga
mendengar suara lantang seorang pria yang menyeramkan diselingi dengan
bunyi-bunyi pukulan, suara gelas pecah, dan masih banyak lagi suara aneh yang
seketika membuat pikiranku berkecamuk. Aku pun semakin takut. Aku mencoba
sedikit menunduk di pagar rumah mereka agar tidak ketahuan.
Setelah suara-suara itu tidak terdengar lagi, aku memberanikan diri
untuk membuka pagar dan masuk ke halaman
rumah mereka.
“Assalamualaikum…” ucapku dengan nada sedikit ragu. Tidak ada
jawaban dari dalam, aku mencoba mengucap salam lagi dengan sedikit lebih keras
dari sebelumnya. Tetap saja seperti rumah kosong. Mmm, mungkin lebih seperti
rumah angker yang berhantu.
Aku pun memutuskan untuk pulang dan mencobanya lain kali saja.
Tetapi, saat aku mulai melewati pagar…
“Ada apa ya?” sapa seorang gadis dari belakangku. Aku tersentak dan
segera berbalik badan.
Astaga! Gadis di hadapanku saat ini sangat cantik!! Mungkin gadis
ini seusiaku. Namun sayang, lebam-lebam biru di wajahnya menutupi kecantikan
itu. Rambutnya diikat sekenanya dan agak berantakan. Pakaiannya lusuh. Ia
mencoba mengusap sisa-sisa air matanya, sepertinya ia adalah sumber tangisan
yang sering kudengar akhir-akhir ini. Aku terdiam cukup lama. Benar kata ibu,
itu bukan suara hantu.
Aku tak tahu harus berkata apa. Beribu pertanyaan yang tadinya
mengganggu pikiranku, tak sempat kutanyakan. Ke mana perginya seorang Maya yang
cerewet itu? Gadis di hadapanku ini menatapku bingung. Dia terdiam. Aku juga
terdiam. Aku membisu seketika saat itu.
“Ayo masuk,” Ajaknya sambil tersenyum ramah.
Aku tersadar dari lamunanku. “Ehhh!!! Mmmm, tidak! Tidak usah
repot- repot” kataku dengan sangat canggung.
Menurutku, dia adalah gadis yang ramah. Jadi aku memutuskan untuk
bertanya kepadanya, “Mmmm, kenapa wajahmu?” kataku dengan sok akrab.
“Oh, ini??” katanya, sembari menunjuk lebam-lebam di wajahnya itu,
“Ah, tidak apa-apa kok!”
Hahh??! Tidak apa-apa katanya?? Wahh yang benar saja. Aku yang
melihatnya saja sampai meringis kesakitan, omelku dalam hati. Aku melihat
senyum indah di wajahnya padam seketika, seakan teringat pada sesuatu “Aku
sudah biasa seperti ini…”
Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, tiba-tiba pintu rumah tetanggaku
itu terbuka. Sesosok lelaki dengan janggut yang sudah mulai memutih, dan
berwajah garang keluar dari pintu cokelat tua itu. Aku sampai merinding
melihatnya.
“Itu abah.” kata gadis itu langsung setelah melihat rasa penasaran
yang tergambar jelas di wajahku. Bila dilihat sekilas, mereka berdua memang
mirip. Aku terdiam, aku tersesat di jalan pikiranku sendiri.
KEKERASAN, itulah kata yang pertama kali muncul dalam otakku saat
melihat lelaki itu. Apakah telah terjadi sebuah kekerasan? Apa mungkin gadis
cantik ini disiksa oleh ayahnya sendiri? Bodohnya aku. Mana ada ayah yang tega
melakukan ini kepada putrinya sendiri?! Aku berpikiran yang tidak-tidak. Ah! Tidak
mungkin! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tanpa sadar.
Aku bingung dengan apa yang ada di hadapanku saat ini. Yang satu
berwajah cantik dengan penuh lebam di wajahnya. Yang satunya lagi berwajah
garang dan menyeramkan. Sebelumnya, aku mendengar suara pukulan, bentakan,
suara gelas pecah, dan suara-suara lainnya. Aku menjadi semakin yakin kekerasan
itu benar-benar terjadi.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Dengan bodohnya, tanpa mengucapkan
apa-apa aku langsung membalikkan badan. Berjalan sok tenang, seolah tidak
terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya seluruh tubuhku bergetar. Setelah melewati
pagar, aku berlari sekencang-kencangnya. Dan bodohnya lagi, aku tak sempat
menanyakan nama gadis itu.
Aku berlari dengan cepat, sampai-sampai bang Adit dan bang Naufal
yang ada di teras depan langsung menganga ketika melihatku berlari masuk ke
dalam rumah tanpa permisi. Kuarahkan kakiku menuju kamar, langsung kuraih gadget
hitamku yang tergeletak di atas meja belajar. Aku ngos-ngosan, saking lelahnya
berlari secepat tadi. Aku mengirim sebuah pesan kepada Tania melalui Black
Berry Messenger, seperti biasa.
|
Baru
Jg jam Sembilan
Mon 5:51 PM
Percaya
gk, Tan? tetangga baru gue
itu
disiksa sama bapaknya sendiri!
Mon 5:57 PM
maksud
lo kayak
kekerasan
fisik gitu?
Mon 6:18 PM
ya!
Makanya dia selalu nangis
Mon
6:25 PM
Masa sih! Gapercaya ah! Gue
mah cuma lihat yang kayak
gitu di tipi doang
Mon 6: 29 PM
panjang
ceritanya, besok
deh
gue ceritain di kelas
Mon 6; 32 PM
ah
maya! Bikin penasaran aja
|
Sangat tak wajar bila seorang ayah menyiksa anaknya sendiri.
Kasus-kasus seperti ini hanya pernah kusaksikan di acara berita Televisi.
Seperti kasus gadis kecil malang, bernama Angeline.
Jahat sekali rasanya bila aku tidak melakukan sesuatu. Aku ingin
melaporkan kasus ini secepatnya, tapi apakah mereka akan mempercayai ocehan
anak kecil sepertiku? Aku terus terbayang-bayang kejadian tadi sore. Aku pun
memutuskan untuk menceritakan ini kepada bang Naufal. Berhubung bang Naufal
sedang sibuk dengan skripsinya, aku pun beralih ke bang Adit.
Bang adit sempat tak percaya dengan apa yang aku sampaikan bahkan
menuduhku berbohong. Mungkin karena aku yang selalu menjailinya? Tapi
lama-kelamaan dia menyadari bahwa aku sedang tidak bercanda dan mulai
mempercayai apa yang aku ceritakan.
Beberapa minggu kemudian barulah terungkap kejadian yang
sebenarnya. Itu pun dilaporkan oleh bang Adit setelah mendengar ceritaku. Dugaanku
benar! Dan ternyata semua tetanggaku sudah menaruh kecurigaan pada tetangga
baru itu sejak awal. Mereka juga sudah tahu jika terjadi kekerasan fisik pada
Anita. Ya, gadis sumber tangisan itu bernama Anita. Tetapi mereka tak berani
melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib.
Pak Togar, ayah Anita menganggap anaknya sebagai pembunuh sang
istri. Ia mengaku depresi karena kematian istrinya saat melahirkan Anita,
sehingga ia sangat membenci anaknya sendiri, sampai-sampai ia melampiaskan
kekesalannya dengan selalu menyiksanya. Ia juga tak menyekolahkan anaknya
layaknya anak-anak lain.
Aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisi Anita. Saat aku
mendatangi rumahnya beberapa minggu lalu saja, ia masih sempat tersenyum
kepadaku. Sekarang Anita tinggal dengan pamannya di Medan dan melanjutkan hidupnya
dengan mulai bersekolah. Meskipun begitu ia tetap menyayangi ayahnya yang
sekarang sedang berada di dalam penjara.
Beginilah keadaannya. Ya, kekerasan fisik terhadap anak di bawah
umur. Ini adalah salah satu kasus yang sering terjadi di Negara kita. Anak-anak
di bawah umur diperlakukan semena-mena, bahkan oleh kerabat terdekat mereka. Mereka
tak menyadari peran penting para generasi muda untuk meneruskan perjuangan para
pahlawan. Jika bukan kami, lalu siapa yang akan melanjutkan perjuangan itu?
Maka perlakukanlah kami dengan baik.
Dan sekarang kasus itu terulang lagi bahkan terjadi pada tetanggaku
sendiri. Menurutku, ini terjadi karena kurangnya ketegakan hukum di Negara yang
KATANYA Negara hukum ini.
Ya sudahlah, tak ada gunanya menjelek-jelekkan Negara sendiri.
Hhhh.. mirisnya Negeri ini. Sebenarnya.. Siapa yang salah??!
Kami sebagai generasi penerus bangsa harus mampu memperbaiki
keadaan Indonesia di masa depan. Aku tak mau Negara yang kucintai ini terus
seperti ini. Sekali lagi, kalau bukan kami, para generasi muda, lantas siapa
yang akan melanjutkan cita-cita Negara ini?
Ini pertama kalinya aku berpikir sejauh itu. Yang jelas para remaja
harus punya pemikiran seperti ini agar ke depannya menjadi generasi yang lebih
baik dari sebelumnya. Dari kejadian itu, aku mendapatkan banyak pelajaran.
Aku ingat kata Pak Samsul, guru IPS ku saat kelas 9 SMP dulu,
“Anak-anak, Indonesia itu seperti macan yang tertidur. Sebenarnya
Negara kita sangat kuat seperti macan, siapa pun yang melihatnya pasti akan
takut!! Taaapiiiii, sekarang macan itu sedang tertidur!!” Ucap Pak Samsul
dengan menggebu-gebu. Kami pun menjadi antusias mendengarnya.
Dian mengangkat tangan kemudian berkomentar “Lalu, kapan macan itu
akan bangun??” Pak Samsul pun mulai berbicara “Dari zaman pak guru SD, guru
bapak juga berkata seperti itu. Namun sampai sekarang macan itu belum terbangun
juga. Kalianlah, para generasi muda, yang akan membuat macan itu terbangun.”
“Jangan-jangan macan itu mati, pak!” Celetuk Hadi, seisi kelas pun
tertawa. Di saat-saat seperti ini, Hadi malah membuat candaan. “Tidak
anak-anak, macan itu belum mati. Karena kalianlah nyawa dari macan itu. Bapak
yakin, kalian bisa membangunkan macan itu dan membuatnya ditakuti oleh siapa pun
yang melihatnya.”
Aku memang belum terlalu mengerti dengan maksud Pak Samsul saat
itu, tapi sekarang aku sudah mulai mengerti. Ya, kami harus bisa membuat macan
yang tertidur itu bangun dari tidurnya dan mengaum keras sehingga siapa pun
akan takut dibuatnya. Hmmmm, itulah tugas kami, membangunkan macan itu.
***
Komentar
Posting Komentar